Guidepost of Moonlight

, /l、
(゚、 。 7
l、 ~ヽ
じしf_, )ノ

=============================================================

List Char : http://wp.me/sxlNW-testttt
Rekap Chp 1 : http://wp.me/pxlNW-f
Rekap Chp 2 : http://wp.me/pxlNW-k

Harap gunakan nick character masing,
untuk spectator gunakan warna BIRU
Mau ikutan, tp belum bikin char? PM rey_as

Lokasi anak” untuk sementara :
depan kelas : vivio, ilya, tally, raira, cheng, Frey, wawocks (RIP)
warteg : Max
warnet: kepsek
ruang guru: rion, kez
yg tidak jelas keberadaannya : radianto, ichinose, wawok I
=============================================================

Rekap Chp Terakhir : http://wp.me/pxlNW-k

============================================================
Vivio Sidestory
============================================================

Di pagi itu, aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Jam menunjukkan angka 5. Matahari masih belum nampak dari jendela apartemenku. Hawa dingin begitu terasa ketika aku beranjak dari ranjang. Aku lalu menuju meja komputerku untuk melihat downloadanku yang kemarin kutinggal. Masih nampak angka 89% pada window utorrent, sudah beberapa hari kujalankan torrent yang berisi installasi game terbaru. Ya, saya adalah seorang gamer. Fanatik kalau boleh dibilang. Mungkin terdengar aneh kalau mendengar seorang cewek yang fanatik dengan game. Oh ya, namaku Vivio Juliant, yang bulan desember kemarin baru saja menginjak usia 17 tahun. Aku tinggal sendirian di apartemen yang dikelola oleh pamanku. Kedua orang tuaku workaholic, dan juga terlalu overprotektif, sehingga aku memutuskan bersekolah jauh dari mereka untuk bebas. Sudah hampir 2 tahun aku tinggal sendiri. Kubuka window messengerku, kulihat beberapa nama teman2ku yang kukenal dari internet. Dengan santainya aku memulai pembicaraan dengan salah satu temanku,
Vioryndr: DS ku hang
Vioryndr: freeze waktu lawan beldr
Vioryndr adalah nick yg kupakai sebagai usernameku,
Infels : mending hang
Infels : gw dulu maen salah pake cheat sistem na ada yg ilang
Ya, dia memang seorang cheater, game apapun selalu memakai cheat, padahal aku orangnya anti cheat, entah kenapa aku malas sekali menggunakan cheat, baik itu game offline ataupun online.
Vioryndr: ini lawan Belial gimana
Vioryndr : susah
Vioryndr : curang bgt bisa nyerang 1 map
Infels : cheat aja wakakkakak
Infels : naikin lvl demon kek
Vioryndr : ah pecuma, nyerangnya 1 map
Vioryndr : belum sampe deket dia udah dikit hpnya
Infels : gw terakhir bikin sumon yg rare lvl 70han waktu lvl 47
Infels : bikin aja
Infels : gampang kok
Aku terdiam sebentar, mengingat di game tersebut punya sistem kita gak bisa punya demon yang lvlnya lebih tinggi dari lvl main char kita, terus gimana caranya dia lvl 47 punya demon yg lvlnya 70an. Ah iya, dia kan cheater. Tiba-tiba muncul sebuah pop-up chat, dari salah seorang temanku pada game online,
d2009ango: hei
d2009ango: tumben ol
Vioryndr : np?
d2009ango: nti mlm ol y
d2009ango: clanwar
Vioryndr : jam rp?
d009ango : 11an
Ya, jam segitu memang jadwalku bermain. Aku biasa bermain sampai dini hari. Makanya jam 5 terbilang terlalu pagi bagiku yang biasa tidur telat. Jam hampir menunjukka angka 6. Aku pun bersiap2 untuk pergi bersekolah. Entah kenapa disekolah banyak sekali yang mengidolakanku. Baik itu cewek atau cowok. Namun lebih banyak ceweknya, padahal menurutku aku orangnya biasa2 saja. Padahal aku ingin memiliki hubungan yang normal dengan seorang cowok, seperti cewek lain pada umumnya. Sayangnya aku punya trauma sama cowok yang lebih tua. Ah sudah hampir jam 6 lebih, mungkin lain kali saja aku bercerita tentang traumaku. Aku pun dengan cekatannya memakai seragam. Kulihat wajahku di depan cermin, kusisir rambutku yang pendek ini. “OK” kataku sambil berkata ke cermin. kembali ke arah komputer, kutuliskan status “away” pada messengerku. Lalu aku pergi kesekolah. Kunaiki mitsubishi lancer evo x ku yang berwarna merah metalik itu melewati keramaian pagi.

=======================================

pada suatu hari di warnet langganan “The Bridge”(sebenarnya dia punya, supaya ga ketauan ama ortu murid, blgnya sih punya tmennya), The Bridge sedang bermain dota, RF, PB, CS, L4D2 disaat yang bersamaan (maklum warnetnya punya dia, jadi cuma dia yang dapet komputer bagus) dia melihat kiri kanan. ternyata disana terlihat ada perempuan kecil sedang bermain ayodance. mengingat fetish si kepsek setan ini loli, dia terdiam beberapa saat dan berkata

The Bridge : “nak, kamu tidak sekolah?”

anak kecil : *melihat dengan pandangan kesal* Oom siapa??

The Bridge : “om yang punya warnet ini”

anak kecil : *mengamati* hmmm…. kok kelihatannya kampungan? bener om yang punya ini?

The Bridge : *ini anak ga diajarin sopan santun ya ama ortunya -___-* bner kok, orang tua kamu sekarang ada dimana?”

anak kecil : papah… papah ada di sanah lagi maeeen *menunjuk ke arah pojokan*

The Bridge : *OMGWTFBBQFACEPALM.JPG* “trus ibumu?”

anak kecil : mamah…. eeh mamah…. *berdiri dan berteriak* PAAAAAH!!! MAMAH LAGI DIMANA YAAAH??

Papa : YAAA?? MAMA? MAMA LAGI BELI BAHAN2 BUAT NANTI MAKAN MALEM!! KAMU YANG SABAR YA NUNGGUNYAAAA!!! *lanjut maen*

The Bridge : *keluarga yang bahagia :hammer* “kamu ga ada pelajaran gitu?”

anak kecil : pelajaran?? pelajaran itu apaaa?

The Bridge : “jadi kamu ga sekolah?”

anak kecil : sekolah sih udah selesaaai…. Om sendiri mo ngapain di sinii?

The Bridge : “om main lah”

anak kecil : Om main ayodance jugaaa? *mata berbinar2*

The Bridge : *WOOOOOOGH nosebleeding.jpg* iya, adek lanjutin aja deh maennya *sambil tersipu malu

anak kecil : *berbicara kecil ke jam tangan* ya sepertinya kita sudah mendapatkan targetnya…

tiba2 anak kecil tadi mendatangi The Bridge yang sedang main.

anak kecil : eh eh… om om…. itu sekolah di depan…. om kenal sama yang punya ga? katanya siih orangnya ganteeeeng….. *tersipu malu*

The Bridge : iya orangnya ganteng bgt loh :maho

anak kecil : seriuus??? om kenal???

The Bridge : serius, dan kenal pulak :maho

anak kecil : trus trus katanya kepsek di sana punya hewan aneh gitu ya??? wa…. wa… wa…

The Bridge : wawok :o

anak kecil : aaaah iyaaa wawooook!!! eh eh om!! pak kepsek di sana orangnya kayak apa siiih? *mata berbinar*

The Bridge : *moooee nosebleed.jpg* pokoknya orangnya ganteng, perkasa, disukai banyak wanita dan dibenci oleh pria karena kegantengannya

anak kecil : waaaaaah!!! *terkesima* ehe ehe ehe…. kata papa aku boleh menikah sama orang yang ganteng sama kaya…. pak kepsek kan punya sekolah berarti kaya kaaan???

The Bridge : kaya dong, keren lagi :cool:

anak kecil : om om mau dong ketemu ama pak kepseknyaaaaa!!! mau ketemu wa…wa…wa…wawoknyaaaa!!

The Bridge : what? okay2, saya ke kamar mandi sebentar

setelah sekian lama, datanglah si kepsek, dengan rupa seorang muda umur 32 tahun, berpenampilan cool, dengan kaca mata hitam oakeley, dengan jam tangan bermerk tissoto

kepsek : hai anak kecil yang manis

anak kecil : ooom siapaaa? om tadi kemana yah……

kepsek : om yang tadi sedang mencari makan, saya kepseknya *muka ganteng sambil berbinar2 tertiup angin*

anak kecil : waaaaaah jadi oooom ini kepseknyaaaaaaaaaaaaaa!?!? nee nee nee katanya om punya hewan wa…wa..wa..wa….? wawoog?

kepsek : namanya wawok, klo kamu blushing, saya panggil nanti wawoknya

anak kecil : aaah pak kepsek bisa ajaaaa… *tangannya naik turun* emmm….. be-begini? *menatap ke atas*

kepsek : *nosebleed.jpg pingsan* *GUBRAK*

anak kecil : *berbicara lagi ke jam tangannya* di sini ALPHA, target sudah berhasil dilumpuhkan. Tetapi keberadaan hewan X belum dapat dikonfirmasi.

markas : *BZZZZZTTTTT* di sini HQ, lanjutkan ke plan B amankan dulu target ke dalam van *BZZZZZTTTT*

anak kecil : diterima…..*mematikan alat komunikasi dan melihat ke arah kepsek* KEIKAKU DOOORI *evilgrin.jpg*

—————————————————————————————-=======================================

Side story : Kenyataan di balik kecelakaan di laboratorium kimia beberapa hari yang lalu

Hari itu, aku sedang bereksperimen seperti biasanya tanpa seijin kepala sekolah dan dilakukan diluar jam pelajaran. Setidaknya aku ingin meningkatkan keahlianku dalam pekerjaan lapangan karena sudah beberapa bulan ini aku hanya duduk di balik meja dan menyebut teori2 yang sudah kupelajari beberapa tahun lalu.

Singkat cerita, ada piaraan Pak kepsek yang lepas waktu itu. Bentuknya mirip buaya dan diberi nama…eee, udah agak lama ceritanya jadi saya lupa…kalo gitu namanya buaya aja. *Ahem* ketika aku sedang asik-asiknya memainkan tabung reaksi dengan lincah, ada suara berdesis dari arah pintu.

Buaya : Hisssssssss~

Rion : …piaraan pak kepsek lepas lagi ya?

Untuk mencegah buaya itu masuk ke dalam, aku berjalan ke arah pintu untuk menutupnya…tapi buaya itu berhasil menyelinap ke dalam dan langsung menjilat paha kananku.

Rion : !

Buaya : Mmmmmm, ahhhhh

Rion : *Pak, saya dan beberapa murid disini belum mau mati pak…tolong urus binatang piaraan dengan baik dan benar…*

Buaya itu mulai mengganas [ato nafsu?] dan berusaha mendaki badanku. Secara refleks aku mundur kebelakang untuk menjauhi makhluk zalim itu, tetapi aku terpeleset dengan sukses dan membentur meja. Beberapa bahan kimia yang terlihat berbahaya mulai tumpah di depanku dan ajaibnya langung membentuk kobaran api.

Buaya itu bukannya takut dengan api, malah mencoba menerjangnya. Tampaknya dia sudah menganggapku sebagai majikannya [ato santapan?]. Karena aku tidak mau mempunyai piaraan itu dan tampaknya dia tidak takut api dan api makin meluas, maka kucoba menumpahkan seember air kearah buaya yang sedang mandi api itu.

Binatang sial itu malah tambah ganas ~_~

Ahhhhh, karena waktu itu aku sudah tidak tahu harus apa lagi, kulempar satu karung berisi suatu unsur yang aku lupa namanya, dan kembali menyiramnya dengan air, dengan harapan buayanya kabur dan apinya padam. Tapi entah kenapa, seketika karung itu mengalami kontak dengan air, karungnya MELEDAK!

Beberapa menit setelah kejadian yang kurang bisa dipercaya itu, aku berhasil keluar dari tumpukan puing2…eeh, sebenarnya aku terlempar kebawah meja, jadi aman dari barang2 yang berjatuhan dari atas. Kulihat ke arah sumber ledakan itu, sang buaya sudah telentang tanpa nyawa…dan ada suara pak kepsek yang marah2 ke arah lab. Secara instan aku langsung kabur dari tempat kejadian lewat jendela dan memutuskan untuk pulang ke rumah untuk datang keesokan harinya tanpa rasa bersalah…

Untung pak kepsek belum tahu kejadian sebenarnya…dan untuk menghibur diri, dia membawa 6 wawok dari peternakan wawok yang dimilikinya di 7 titik penjuru dunia. Yang parah yaa… wawoknya lebih sering lepas daripada buayanya, minimal 2 kali satu minggu, sering masuk kelas atau bersantai di ruang guru, terkadang juga berlaku seperti murid sekolah lain. Pak kepsek tidak keberatan dengan hal itu dan malah makin menyayangi wawoknya.

*End*

======================================================================

——————————————————————————————————————————————-

Side Story : Destiny

Haaai~ namaku Kyrlia Gardevoir~ Semasa SMP aku bukanlah anak yang mencolok. Memakai kacamata, wajah tertutup rambut, dikepang. Selalu di pojok ruangan, menatap langit. Sesekali kubuka buku tulisku dan menuangkan apa yang ada di pikiranku. Tetapi semua itu berubah, ketika aku bertemu dengannya…..Ya… orang itu…

Hari itu seperti biasanya, hari yang seakan cerah namun mendung. Aku berjalan pulang dari sekolah. Kupikir ini akan jadi hari yang biasa, pulang dari sekolah, di rumah melakukan kegiatan sehari2, lalu tidur. Akan tetapi kejadian naas itu terjadi. Ternyata buku yang biasa kupakai mengarang tertinggal diatas meja sekolah. Esok paginya…. aku sangat terkejut. buku yang berisi karanganku terpampang didepan kelas. Semua menertawainya. Aku tak berani mengambilnya, hanya terpaku di depan mejaku. Semua kelas seakan menjadi musuhku. tak ada yang membantuku aku hanya sendiri di kelas….

Berawal dari kejadian ini penyiksaan ini terus berlanjut. DI kelas, di kantin, bahkan di luar sekolah. Mereka memanggilku abnormal. Menjadikanku pesuruh. Meski dengan alasan mengajak pergi bermain bersama, sebenarnya hanya alasan untuk memperbudakku saja.

Tapi suatu hari, mereka mulai kelewatan. Aku dipaksa ikut mereka ke tempat “aneh”. Aku menolaknya. Lalu mereka membawaku ke gang yang sepi.

bully 1 : *mendorong sampai jatuh tersungkur* APA KATAMU!?!? TIDAK MAU IKUT!?!?

Kyrlia : t-tapi tempat itu kan-

bully 2 : Haaaa!??? bukannya itu tempat kesukaanmu? darimana lagi kamu mendapat fantasi seperti itu??

Kyrlia : b-bukan!! aku tidak pernah-

bully 1 : heh berisik!! *menginjak2*

bully 3 : hei tidak apa2 bermain fisik?

bully 2 : biarkan saja toh tidak akan ada yang mempercayai dia

bully 1 : hei bagaimana kalau kita panggil “mereka”

bully 3 : “mereka”? ah “mereka” pasti akan suka dengan anak seperti ini

bully 1 : ya kan?? Kyrlia juga pasti suka kaaan??? *menjambak rambutnya dan berbicara di depan mukanya*

bully 2 : hahaha!! benar juga!!

Kyrlia : t-t-tidak!!! j-j-jangan!!!

Tiba2 orang itu datang. Ia datang bersama cahaya yang menerangi gang yang gelap itu. Matanya yang tajam menatap smua lawan bicaranya. Melangkah maju dengan pasti. Tidak gemetar sedikitpun melihat orang2 yang jauh lebih tinggi darinya. Suaranya yang lantang dan berwibawa keluar dengan pasti.

???? : hei kalian! hentikan perbuatan kalian!!

bully 1 : haaa? mau apa kamu kesini? sana2 ini bukan urusan anak kecil

bully 2 : hei, coba liat seragamnya, itu kan seragamnya sekolah yang isinya orang kaya semua

bully 3 : hee serius lo?

???? : Terserah kalian mau berbuat apa tapi jangan di sini. Mengganggu jalan saja.

bully 3 : hei nona muda ini sombong sekali…

bully 1 : hei hei gimana kalo kita minjem sedikit uang dari nona muda ini??

bully 2 : haha benar juga, pasti uang sakunya berlebih!!

bully 3 : nah begitu ya nona muda sekarang kami mau minjem sedikit uang untuk biaya sekolah kami *berjalan ke arah orang itu*

???? : haaaah *menghela napas* kenapa banyak sekali orang2 aneh dekat sini *menjentikkan jari*

Tiba2 muncullah seseorang yang berpakaian rapi serba hitam. “anda memanggil nona?” sahutnya

???? : John tolong bereskan ini…

John : tentu saja nona :)

bully 2 : hei apa2an ini??

Dalam sekejap para penggangu itu terjatuh. Seperti tak ada luka yang berarti namun semuanya pingsan. Aku tidak mampu berkata apa2 lagi

???? : hei kau! *menunjuk ke arahku*

Kyrlia : y-y-y-ya

???? : siapa namamu?

Kyrlia : K-k-k-kyrlia *agak gagu*

???? : Ilya?? yasudah ilya dimana rumahmu?

Kyrlia : e-e-egh kenapa???

???? : kenapa malah nanya? sudah jelas mau mengantarmu ke rumah. John siapkan mobil !

Aku terpana…. tidak pernah kulihat orang sepertinya…. benar2 elegan…. tidak ada celah sedikit pun…

Sejak hari itu aku memutuskan. Tidak ada lagi diriku yang lemah. Aku….. ingin menjadi sepertinya…

Sekarang…. saat masuk SMA… aku bertemu lagi dengannya… tapi… mungkin dia sudah lupa denganku… apalagi penampilanku sudah berubah….

Kyrlia : p-p-permisi… anda masuk sekolah ini juga? saya juga murid baru di sini… s-s-salam kenal..

???? : *memperhatikan lalu tersenyum* salam kenal :) kau berubah ya? ilya?

Kyrlia : deg!! (d-d-d-dia masih mengingatkuuuuuu) aah eh itu iya… ah emm….

???? : Vivio…. Vivio Juliant…

Kyrlia : emhhhh….. YAK!!! *menggenggam tangan vivio* b-b-b-bolehkah aku memanggilmu kak Vivio?

Vivio : eeeh? yah boleh saja sih….

Kyrlia : benarkaaaah??? *mata berbinar2*

Lalu dimulailah masa-masa SMA ku yang baru……….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

- Raira Forbidden Stories-
censored for educational purposes
————————————————————————————————————————————–

=================================
Frey’s side story
=================================

The sound of the rotor’s blade slicing through the air made it hard for Frey to sleep. Frey was staring at the scene outside. The city of Astreilt could be seen from afar, with skyscrapers standing tall everywhere you see, and a very distinctive cone shaped structure, twice as tall as the tallest building, located right in the middle of the city. The structure’s outer layer which was made entirely out of a material thatis transparent like glass, but stronger than steel, is reflecting the sky above. A ring shaped object hovers above 3/4 of the structure, with a diameter wide enough so as not to touch the structure, but smallenough so that it won’t disturb the buildings around it.
After a while, the helicopter started descending, and finally landing on a pad at the side of the structure. The door of the helicopter slides open, Frey got off and started walking towards thestructure. A few people was already waiting at the pad, they approached Frey and followed him as he kept walking.
Inside the structure, there’s a tower, it is reaches where the giant floating ring, hiding the very top of the structure, which is where the royal family lives. The tower, named Athena, is the nation’s largest data center, the lower half of the tower is a giant server containing the data of everything in the universe, and the upper half is the king’s private library.
“How’s my father?” Frey asked.
“Not very good, his condition is getting worse, and he’s currently in intensive care,” a woman from the group answered him.
“Keep this from the people, the last thing we need is for the people to know that the King is sick, and the nation is being ruled by a 16 year old teenager,” Frey said.
“Yes Your Highness.”
“James, what is our current situation?”
“The UN is going to hold an emergency meeting, and we need the King to attend tomorrow,” said the man named James.
“I’ll go, but don’t let the public know, use the King’s double for public appearances,”
“But, your highness, the UN specifically asked for the King.”
“My father is sick, and they know it. I don’t care what they asked for. I’ll be going, and if they don’t like it, they can just suck it up.”
“Y-yes, your highness…”
“Is there anything else?” Frey asked, as he entered an elevator.
“The farmers want Demeter to give more rain.”
“We are already pushing the limit, changing the weather any further can create instability, tell them that. Anything else?”
“No, your highness, everything else has been taken care of,”
“Good, I’ll be seeing my father now,” Frey said, as the elevator door closes and went up. The elevator started moving passing the 25th floor, the 30th, the 40th, the 60th, and finally it stops at the 72nd floor. Frey got out of the elevator, and there was a large hall inside, and in the end of the hall was a door, the door looked more like a gate, it was six times taller than Frey, and it is guarded by two androids. Frey walked down the hall, and before he reached the door, it had already opened, waiting for Frey to enter.
The door behind him closed as soon as he entered the room, and Frey was greeted by his servant. Frey answered her greeting, and kept walking through the room. There were a lot of servants in the room, all of which bowed their head, except for the one that greeted Frey. Frey kept walking, followed by the servant.
“How is he?” asked Frey.
“His highness’ condition is still getting worse, and there is still no cure. They say if this keeps going, his highness will only have another month to live,” the girl answered him. Frey’s heart sank hearing the news, he knew it was inevitable, but he still hoped this day wouldn’t come. His father was diagnosed with a chronic disease that has no cure two years ago, and Frey was the one secretly in charge of the nation since. Though still not king, Frey was respected by his subordinates who knew the king was sick. But, you can’t say the same for the rulers of other nations, though some respect him, most of them looks at him only as a dangerous teenager with too much power for a kid to handle. Greilste is the strongest nation in the world in all aspects, causing other nations to respect and fear Greilste.
The servant had noticed Frey’s distress.
“Don’t worry about what the doctors say, they are wrong all the time anyway,” she said, trying to cheer up Frey who seemed depressed.
“Oh, thanks Jill, but if they don’t know what they are talking about, they wouldn’t be the royal physician,” Frey replied with a weak smile.

====================================================================================================

Sidestory: A Life of Young Actress, Maybe

Pada suatu pagi yang cerah, aku terbangun dari tidurku yang lelap. Kubuka jendela kamarku dan cahaya matahari mulai menyinari kamarku.

“Hari yang sangat cerah, semoga hari ini jadi hari yang menyenangkan.” Pikirku

Kemudian kegiatan rutin sehari-hariku dimulai. Dimulai dengan mandi, kemudian menyiapkan makanan buat sarapan. Aku sangat suka sekali memasak dan teman-temanku juga menyukai masakan buatanku. Oh ya, nama saya Natalie Doherty. Saya lahir saat hari Natal jadi orangtuaku memberi nama Natalie. Oleh teman saya saya dipanggil Tally biarpun badan saya termasuk kecil. Orangtua saya adalah seniman. Ayah saya, Olivier Doherty adalah seorang aktor terkenal di Inggris Raya, sedangkan ibu saya, Alicia Doherty merupakan penyanyi yang cukup terkenal. Kehidupanku saat kecil hingga SMP selalu dilakukan di rumah karena saya sekolah privat. Karena orang tua saya selalu sibuk bekerja jadi dirumah saya cuma ditemani oleh perawat saya. Saya juga jarang keluar dari rumah karena rumahnya terletak terpencil di pedalaman desa. Karena hal itu mungkin saya agak canggung dalam berteman. Namun saat saya masuk SMA saya memutuskan untuk hidup sendiri untuk mencoba hidup mandiri dan orangtuaku pun setuju

“Ah, sudah telurnya sudah matang. Saatnya mempersiapkan meja”

Saya tinggal di apartemen. Apartemen tempat saya tinggal sangat kecil namun rapi. Di ruangan tersebut ada rak tempat menyimpan semua koleksi naskah drama dari naskah buatanku sendiri hingga drama buatan William Shakespeare. Saya sangat suka sekali dengan berakting. Menurut ayahku, saya berbakat dalam berakting. Mungkin ini bakat turunan ya teehee.

“Mejanya sudah siap, sekarang waktunya makan”

Kehidupanku di sekolah sangat menyenangkan. Pada awalnya saya sangat pemalu dan jarang berkomunikasi dengan teman baruku. Namun akhirnya saya dapat juga berteman dengan teman-teman baruku. Ini dikarenakan Ilya yang membuatku mengatasi rasa canggung dalam hatiku. Ilya atau Kyrlia Gardevoir adalah teman pertamaku di sekolah ini. Dia adalah anak yang agak pemarah dan cukup keras kepala, namun dia juga sangat baik hati. Tanpa dia mungkin saya tak akan memiliki teman. Dia juga yang memberi nama panggilan Tally. Katanya biar lebih mudah mengingatnya. Dia memiliki teman yang bernama Vivio. Vivio adalah orang yang menjadi idola Ilya. Menurutku dia memang sangat keren dan juga menawan.

“Ah, kenyangnya. Waktunya untuk berangkat sekolah”

Sayapun memakai baju seragam sekolah dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Semoga saya dapat mendapat hal yang menarik hari ini di sekolah.

================================================================

Flashback

Hari itu di UKS, Max masih menunggui Vivio yang mengeringkan badannya.
Max : U sudah selesai?
Vivio : Ah, iya, makasih…
Max : *tiba-tiba menempelkan tangannya di dahi Vivio* Kau sedikit panas, lebih baik kau
beristirahat dulu disini
Vivio : !!!! *kaget karena tidak terbiasa disentuh oleh cowok selain kakaknya*
Max : ??? Ada apa, elu merasa sakit di suatu tempat?
Vivio : Ah! Sori, gw gak biasa disentuh sama cowok….
Max : Ehhh? Ada masalah apa emangnya? Alergi atau seuatu seperti itu (>.<)
Vivio : Gak, gak apa2…
Max : . . . Well whatever, lu butuh istirahat sekarang. Berbaringlah
Vivio : Ah iya *kemudian vivio berbaring sambil sesekali bertatapan wajah dengan max*
Max : *mengambil selimut dan menyelimuti Vivio* Tidur saja lah, gw bakal nungguin koq.
Vivio : ….
Vivio hanya bisa terdiam ketika mendengar Max mengatakan kata2 itu. Sesekali dirinya berusaha untuk tenang, namun hantinya berdebar2 setiap kali dia menatap wajah Max. Entah mengapa semakin lama, perasaan Vivio semakin aneh sekali. Jantungnya berdebar begitu kencang, wajahnya menjadi sedikit memerah, dan ia terus menatap wajah Max yang begitu dekatnya dari tempatnya berbaring. Dalam pikirannya, Vivio amat terasa kagum dengan Max, tidak.., lebih dari itu… Dia melihat betapa menakjubkannya diri Max dari sudut pandangnya. Hatinya berdebar begitu kencang, sampai2 dia takut Max bisa mendengarnya.

Max : Kamu gak apa2? *tanya Max sekali lagi untuk memastikan*
Vivio langsung terbangun dari lamunannya, dan Max berjalan mendekati Vivio, Vivio pun langsung berusaha untuk duduk dan berseru kepada Max,
Vivo : De… dengar! Aku sebenarnya tidak butuh bantuanmu! Lebih baik aku ditolong oleh Ilya & Tally daripada ditolong olehmu!
Max : Maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak ingin ditolong olehku… Aku hanya ingin menolong
saja karena tidak ingin melihatmu terluka, maaf, ya?
Wajah Vivio memerah ketika mendengar jawaban Max, tapi ia langsung menggelengkan kepalanya, "Ta… tapi…",
Tiba2 HP Max berbunyi, dan Max dengan santainya mengambil HPnya yang disimpan di saku celananya. Jari-jemarinya bergerak begitu cekatnya, sepertinya dia sedang membalas pesan. Vivio yang daritadi diam melihat Max, ia lalu menggelengkan kepalanya sekali lagi. Max lalu kembali mendekati Vivio,
Max : Sori, kamu ngomong apa barusan?
Vivio : Lupakan *jawab Vivio sambil memalingkan wajahnya dari Max*
Max : Maaf tadi aku teralihkan, ayolah katakan saja. Aku tidak akan banyak berkomentar.
Tiba-tiba Vivio merasa kesulitan untuk tetap berdiri. Tubuhnya serasa tidak mau lagi menuruti kemauannya, tiba2 tubuhnya terjatuh kearah Max.
Max : Vivio! *seru Max*
Ia terkejut melihat Vivio yang bernafas terengah-engah. Max mencoba menahan Vivio dengan tangannya, dan Vivio berusaha berpegangan kepada bahu Max. Vivio berusaha mengatakan sesuatu dengan nafasnya yang terengah-engah.
Vivio : Nampaknya… aku kelelahan… *ucapnya dengan raut wajah yang kesakitan*
Vivio lalu berusaha untuk kembali duduk, saat itu, raut wajah Max berubah, ia nampak khawatir dengan kondisi Vivio.
Max : Sudahlah, lebih baik kamu istirahat saja
Vivio hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Max,
Vivio : Ya…*hah.. hah..* Aku memang terlalu lelah… *jawab nya dengan nada lemah*
Vivio tampak kesulitan untuk menahan tubuhnya sendiri, kakinya gemetaran. Max langsung memegangi tubuh Vivio,
Max : Sini, biar kubantu kamu berbaring.
Vivio hanya tersenyum mendengar ucapan Max, lalu ia menaruh tangannya di bahu Max,
Vivio : Tolong ya…
Wajah Max segera memerah, lalu ia memapah Vivio,
Max : Iya, huh… *gerutunya*
Tetapi dalam hati Max, ia merasa amat berdebar-debar. Ia merasa terlalu dekat dengan Vivio. Dia juga merasa berdebar-debar karena merasakan hembusan nafas Vivio yang sejak tadi terengah-engah. Dia merasa begitu aneh… Max berusaha membuyarkan pikirannya dengan menggelengkan kepala. Ia berusaha mengabaikan suara detak jantungnya yang daritadi berdetak kencang. Ia mencoba memfokuskan papahannya kepada Vivio, berbahaya apabila sewaktu-waktu dia melepaskan papahannya tanpa sengaja ketika ia sedang memikirkan perempuan yang di gendongnya itu. Tetapi… Tetap saja pikirannya tidak lepas dari Vivio.
Tanpa terasa beberapa menit telah berlalu. Vivio sudah berbaring di ranjang UKS, dan Max menemaninya disamping ranjang. Karena bosan, Max memulai percakapan. "Apa kamu sudah mengantuk, Vivio?", tanya Max sambil tersenyum kearah Vivio, Vivio lalu menengok dan menjawab dengan gugup, " I..Iya!", Max lalu hanya tersenyum manis kepada Vivio, muka Vivio langsung memerah. "Wah, ternyata kamu cepat sekali mengantuk ya? Sejujurnya aku juga agak mengantuk, aku tidur di ranjang sebelah ya…", Max lalu berusaha merapikan rambutnya yang dari tadi masih basah. Jantung Vivio berdebar melihat rambut Max yang panjang dan berwarna hitam itu terkulai, wajah Max terlihat begitu menawan dengan rambutnya yang panjang itu.
Max lalu mulai melepas bajunya, Vivio langsung teriak kaget. " Ma.. Mau apa kau?!", teriak Vivio. Max lalu tersenyum kearah Vivio, "Oh ini? Aku ingin ganti baju, kebetulan ada seragam cadangan di tempat handuk barusan.", Vivio segera membalikkan badannya ke arah lain, "A… aku tidak akan liat!", seru Vivio. Max kebingungan dengan tingkah Vivio, "Hah? Memangnya kenapa? Aku tidak malu kok." , mengetahui Vivio tidak menjawab, Max melanjutkan berganti baju.
Pikiran Vivio menjadi kacau, sejak tadi jantungnya berdebar dengan kencang, mukanya memerah seperti terbakar. Ia amat gelisah. Karena ingin mengetahui Max sudah selesai ganti baju atau belum, ia sedikit menoleh kearah Max. Ia melihat tubuh Max dari belakang. jantung Vivio berdetak kencang melihat Max dalam keadaan seperti itu. Max tiba-tiba menoleh ke belakang dan melihat Vivio, Vivio yang panik langsung berhenti menoleh, "A.. Aku tidak bermaksud melihat!", seru Vivio. Max yang kebingungan meneruskan berganti pakaian dan setelah selesai ia berbaring di ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Vivio.
Vivio tidak dapat tenang, ia amat gelisah. Ia terus-terusan membolak-balikkan tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang. Ia memeluk selimutnya dengan kencang, lalu melepaskannya lagi. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Dilihatnya Max sedang tertidur dengan nyenyaknya. Melihat wajah Max yang tertidur dengan nyenyaknya, ia berusaha menenangkan diri. "Tenang, Vivio. Lihat saja, cowok itu tidur dengan nyenyak. Jadi jangan gelisah sendiri gara2 hal yang gak masuk akal…. tenang, Vivio… tenang…", ucapnya dalam hati. Pikiran Vivio pun sudah mulai tenang, detak jantungnya kembali teratur, ia pun merasa mengantuk. Ia segera membalikkan tubuhnya kearah yang berlawanan dengan Max dan bersiap untuk tidur…
“Ilya…”, ucap Vivio, Max terbangun mendengar Vivio mengingau, dilihatnya Vivio yang masih tidur. Max berpikir kira-kira apakah yang Vivio impikan sampai-sampai ia menyebut nama Ilya. “Tally…”, igaunya lagi, Max semakin penasaran saja. Max berpikir mungkin Vivio bermimpi tentang sesuatu yang menimpa teman-temannya, karena ia terus memanggil beberapa nama lagi setelah menyebutkan dua nama ‘teman’ terdekatnya. Dalam hati Max berharap, Vivio menyebutkan namanya…
“Max…”, akhirnya Vivio menyebukan namanya. Jantung Max menjadi berdebar kencang, ia menjadi bertanya-tanya kira-kira apakah yang diimpikan Vivio. Tiba-tiba air muka Vivio berubah seperti kesakitan, jantung Max menjadi semakin berdebar-debar, “Ugh…”, igau Vivio, tubuh Vivio mulai bergerak-gerak, nafasnya mulai terengah-engah, “Ahhh! Max… *hah hah* ugh… ah… Max… *hah hah* unhh… *hah* saaa… *hah hah* kiiit…”, igau Vivio, nafasnya terus terengah-engah, tubuhnya terus menggeliat dan tangannya menggenggam selimut dengan kencang. Max yang mendengar igauan itu, mukanya menjadi merah padam, kepalanya seperti berasap, jantungnya berdetak semakin kencang, hidungnya mulai mimisan…

================================================================
Frey's side story, continued<<<<IMPORTANT!!!
================================================================

Frey opened the door to his father’s room. Inside, he can see his father lying down. His face is pale, he looks weak and tired. Frey’s heart began to sink again. His father was always full of spirit. He always smiles and laugh and seeing him like that troubled Frey.
“Oh, Frey you’re here,” said a woman who was sitting beside the king.
“Mom…. How is he?” Frey asked
“He’s going to be alright, you shouldn’t worry too much, he’s currently sleeping right now,” Frey’s mother replied with a weak smile. She looked tired and worn out. Seeing that, Frey felt even more troubled.
A little girl who was sleeping next to the king woke up. She sat up and rubbed her eyes, ignoring the puppy that was sleeping on her legs. The puppy was startled and jumped off the bed.
“Ah, Prince, don’t go!!” said the girl as she was unaware of his brother being present. The puppy ran to where Frey is. Frey grabbed the puppy and held him.
“Ah!! Freeey!!!” the little girl realized that her brother was there. She ran to Frey and hugged him.
“Hey Cecil,” Frey greeted her, and pats her head.
“Do you like my new puppy? His name is Prince!” Cecil was excited that his brother is here, and she was pleased with the fact that Prince was too. Frey only smiled, and he gave Prince back to Cecil. She happily takes Prince, and then went outside.
Not long after that, the king woke up.
“Frey, you’re here. I’m sorry you have to see me like this,” said the king. Frey wanted to reply, but before he was able to say a word, somebody knocked the door.
“Excuse me, but this is urgent,” said the servant behind the door. Frey opened the door, curious to what she has to say. The servant whispered something to Frey.
“Are you sure about this?” Frey asked. He couldn’t believe what he heard.
“Yes your highness, they are waiting for you to approve it,” the servant replied.
“Okay then, let’s go. Mom, I need to go for a moment,” Frey said, as he ran through the halls, and went down the elevator.
After running through the building, Frey finally arrived. Ignoring his quick breath and tired feet, he went inside. The plate outside the room reads Greilste National Research Center. A man in a lab coat greeted him and guided him to a room inside.
“So, it’s true?” Frey asked the man.
“Yes, we have finally found the cure.”
“Are you certain?”
“Yes, we have tested it and all the patients are cured.”
“Are there any side effects?”
“No, not at all, there are absolutely no side effects to be concerned about.”
“Thank god,” Frey sighed in relief, all his worries are gone. He felt the huge burden on his shoulder vanished, “so, when will it be ready?”
“It should be ready by tomorrow.”
“That’s g…” before Frey could finish his sentence; a puppy ran inside followed by a little girl and then a man wearing a security uniform. The puppy jumped to the table, ramming through the vials, and then jumped to Frey. Frey, who was surprised, and didn’t have any time to react, fell down and knocked a vial. The fluid inside the vial poured down and Frey accidentally drank it.
“Ooooooooooh craaaaaaap,” the man in a lab coat who watched the whole thing felt dreaded. He knew what was inside the vial, and the fact that the prince drank it terrified him. Frey coughed, and he tried to stand up, but he couldn’t keep his balance and fell down again. The security guard grabbed Prince and Cecile and took them outside, both of which doesn’t seem to feel guilty or aware for what they did.
“What did I drink?” Frey tried to stand up again, but he can’t seem to gather the energy needed for that. “Hm? I sound weird,”
“Uhm, y-y-y-your highness, I-I-I n-n-n-need to tell you something,” the man in the lab coat said. He was terrified. He didn’t want to tell Frey this, but somebody has to.
“What is it?” Frey asked, while still trying to cough up the fluid he drank.
“Did I drink a deadly toxin or something?”
“Well, it’s not deadly, or dangerous, but,” the man gulped, he gathered all of his courage to try to say what he’s going to say, “well you see, the vial contains a certain medicine, and well, because of the medicine, your highness will… well… you’ll turn into a girl,” the man said the last part of the sentence with a very small voice.
“Excuse me?”
“Well, like I said, you’ll… turn into a girl…”
“What?”
“Well, you see, we were researching if it would be possible to change a person’s gender, and the experiment was a success…”
“Well, then, turn me back!!”
“Well, you see, once you change the gender of someone once, it’s impossible to turn them back, because it would destroy their DNA entirely, turning them into pile of rotten flesh…”
“What!? Why the hell did you do an experiment like this anyway!?”
“U-u-u-u-u-uhm, it was just for scientific purposes…”
“And you just keep the vial for something like that out in the open!?”
“I-I know you’re mad, b-but look at the bright side, at least we found the cure for your father’s illness… ha… ha…”
“But I haven’t changed, that means it’s not working right?”
“Well, the medicine should start reacting right about… now…”
as soon as he said that, his body started changing slowly and Frey started screaming in pain.
After ten minutes of screaming, Frey had finally quieted down the pain was gone. As soon as he could, he started checking his body, hoping that what he thought had happened didn’t happen. His body had completely changed. His chest grew, his body became feminine, and his Adam’s apple is gone. He looked at a mirror, and there he saw a girl, with long golden hair and blue eyes, and on the right eye, there’s a birthmark, it was him. He is the girl inside the mirror, but Frey still won’t accept it. He finally checked his lower area, what he feared the most had happened. It is gone.

Next time Frey muncul nanti jadi Freya ya :p teehee
==================================================================

link ke chp ini: http://wp.me/pxlNW-u

================================================================

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.